Bitung Kota
Ikan, Tanpa Wisata Kuliner Ikan Laut
Catatan:
Dianne Deivie Dirk, Suarasulut.com (awal 2012)

Bitung dikenal sebagai sebuah
kota kecil yang berada di pantai timur Minahasa yang secara geografis pada
belahan timur, selatan dan utara berbatasan dengan laut atau pantai. Itu
berarti sebagian besar wilayah Kota Bitung ini di pagari laut .
Pulau Lembeh yang berada di sebelah
selatan Bitung merupakan benteng alam yang sangat baik melindungi Pelabuhan
Bitung dari gelombang laut sehingga tak heran Bitung terkenal dengan pelabuhan
alamnya yang hampir tak ada duanya di Indonesia. Keadaan laut yang tenang
terutama di celah atau selat yang memisahkan antara daratan besar Bitung dan
Pulau Lembeh dengan keindahan panorama di bawah lautnya, membuat wilayah ini
menjadi salah satu tujuan wisatawan manca negara maupun domestic terutama
yang menggemari wisata bawah laut atau menyelam (diving).
Konon laut seputaran Selat Lembeh ini
sangat berbeda pemandangan bawah lautnya dengan laut Bunaken, atau laut pulau
Lombok di NTB, pasirnya berwarna hitam dan biota lautnya a inilah salah satu
alasan kuat atau menjadi daya tarik bagi wisatawan para diver domestik maupun
mancanegara.
Sebagai kota industry, Bitung sudah
dikenal, bahkan puluhan industri terutama industri perikanan (pabrikan) semakin
banyak berdiri di kota yang dikenal dengan sebutan kota cakalang
atau kota ikan.
Selain sebagai kota Industri,
Bitung juga adalah Kota dengan Potensi Wisata yang sebetulnya
menjadi salah satu andalan Sulawesi Utara, khususnya potensi wisata bahari
(pantai dan laut).
Di wilayah Barat kota ini terdapat pantai
Tanjung Merah dan Manembo-nembo yang sejak dulu menjadi obyek wisata
yang tak kalah menariknya. Di wilayah timur ada terdapat pantai Kasawari
, Tandu Rusa yang berhadapan dengan Pulau Lembeh. Sejumlah obyek wisata yang
menjanjikan tersedia di wilayah timur Bitung ini. Bila kita menyusuri bagian
Utara kota ini, akan dijumpai Pantai Batu Putih dengan berbagai
tawaran wisata pantai yang tersedia.
Jelasnya, Bitung selain merupakan kota industri
juga sebagai kota wisata terutama wisata alam pantai dan laut.Sebagian
masyarakat Bitung berprofesi sebagai nelayan baik nelayan tradisonal maupun
nelayan modern, sehingga Bitung disebut sebagai kota ikan.

Harus diakui, Bitung sebagai kota ikan menjadi
salah satu daya tarik bukan hanya bagi para pengusaha maupun idustriawan saja,
tetapi bagi wisatawan sendiri. Begitu banyak tawaran wisata tersedia bagi
wistawan, meski disadari atau tidak terdapat hal yang membuat penasaran dan
bahkan ironi, karena meski kita berkeliling di seluruh kota ini kita belum bisa
menemui sebuah tempat wisata yang seharusnya sejak dulu sudah ada yakni wisata
kulinerikan laut seperti yang tersedia di daerah lain seperti Manado dengan
sepanjang boulevard hingga Malalayang menyediakan rumah makan atau restaurant
yang khusus menyuguhkan makanan ikan laut atau seperti di Tondano yang
menyuguhkan makanan khas Danau Tondano.
Sangat disayangkan memang, kota ini tidak
menyediakan tempat wisata kuliner ikan laut yang representatif karena
khusus menyajikan makanan utama dengan menu ikan laut, dengan view-nya
menghadap laut lepas (seperti contoh restoran-restoran seperti
diseputaran pantai Malalayang Manado). Jangan heran jika wisatawan domestic
maupun mancanegara yang hendak mencari tempat –tempat seperti ini, mereka
akhirnya harus meluncur kekota Manado. Bitung, kota ikan, laut dan pantai,
melupakan sebuah daya tarik wisata yakni wisata kuliner ikan laut sambil
menjuak keindahan laut dan pantai seperti kelesatan ikan laut itu
sendiri. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar