Tampilkan postingan dengan label Ibu dan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2015

My Mom

Dua puluh sembilan hari sejak kepergian mamiku, tak ada kata yang bisa kulukiskan untuk menggambarkan duka yang dalam atas kepergianannya.  Perempuan sederhana yang ku kenal sangat tegas itu tetap hidup dalam setiap langkah kakiku.

Teringat masa kecil, remaja dan dewasa bersamanya, mengukir hari-hari yang penuh dengan dinamika kulalui bersamanya.

Sebagai anak sulung, perempuan, aku sangat dekat dengannya. Walaupun tidak jarang kami berbeda pendapat, berantem bahkan tak bicara beberapa hari tapi, aku tak pernah menyimpan egoku lama-lama, biasanya, ku cuekin saja dan diam-diam datang ke rumah langsung buka tutup makanan dan makan apa yang sesuai dengan seleraku. Biasanya mamiku hafal kebiasaanku. Kalau sudah begitu, artinya aku sudah tak pikirkan soal marahku.

8 April, ketika penyakit itu menyinggahinya, semua berubah. Mamiku tak lagi benar-benanr sembuh.....sampai Tuhan memanggilnya ...Oktober 17, 2012.

I miss her so much.
Me...without my mom


Selasa, 27 November 2012

Aku dan Ibuku



Dari ibu yang keras, ulet dan rajin aku dilahirkan (Mama Dev  *Deivie, dari namaku atau Ibu Soffie Dirk-Ngantung, mamiku biasa di sapa).  Mungkin orang  takkan percaya kalau aku benar anaknya jika pernah saat  aku berjalan bersamanya, karena memang beda, aku sikecil ngimut sementara mamiku sigendut fol-fol . Ingat mamiku, aku suka nelangsa sambil tersenyum, orangnya keras namun dilain kesempatan candaannya bikin orang terpingkal-pingkal. Bahkan disaat sakit sekarat sekalipun  masih membuat orang lain tersenyum dengan kata-katnya yang jenaka.

Aku, dibesarkan oleh wanita yang dominan ini, papiku kalah nyali, walalupun my mom tetap takut juga kalau papiku bicara tegas. Membayangkan mereka, lucu juga, sperti angka 1 dan huruf O, siceking dan si ndut. Sekian puluh tahun hidup bersama hingga ajal memisahkan mereka tetap dalam naungan kasih sayang satu dengan yang lain.  Cinta memang hanya sepenggal  makna tapi cinta itulah yang menguatkan hubungan keduanya. Bangga aku menekspresikan itu.

Aku melewati masa kecil yang indah di rumah kecil, samping Masjid Nurulhuda Kauditan II, tinggal disamping masjid selama 12 tahun dalam sejarah hidupku, ini  yang membentukku tidak alergi dengan kaum muslim, yang sebagian orang bahkan ada yang sampai menimbulkan bunuh-membunuh (hhiii serem), padahal kita sama-sama manusia, wajib saling menghargai, menghormati, agamamu adalah agamamu, manusia bebas memilih dan menjalankan.  Terbukti sahabatku, banyak yang  muslin, sejak SD, terjalin persahabatan yang manis dengan mereka.

Kembali ke mamiku, aku besar dalam keteraturan hidup yang diterapkan mamiku, bangun pagi, bantu mami cuci piring, menyapu, mandi di pancuran baru kesekolah SD GMIM I, yang jaraknya lebih kurang 1 km dari rumah. Mami menjadi  ibu rumah tangga full time tapi, tidak pernah berhenti membantu papiku memenuhi semua kebutuhan hidup.

Teliti, tegas, teratur dan rajin itu gambaran sifat mamiku, hanyalah seorang perempuan sederhana, mengabdi bagi keluarga, menjadi pelayan jemaat sebagai Syamas GMIM Paulus Kauditan selama 3 periode dan selama 5 tahun dipercaya sebagai bendahara jemaat  yang tegas,  disiplin, terperinci (kadang sifatnya itu salah  diartikan orang).

Bicara soal keteraturan yang diterapkan mamiku, ternyata, tak sepenuhnya aku terapkan dalam hidupku. Aku punya cara hidup yang berbeda yang kadang kontradiksi dengan mamiku. Aku menjadi cenderung mengikuti kata hatiku dan selalu ingin melakukan apa yang ingin kulakukan tanpa harus memikirkan aturan-aturan yang dibuat secara tidak bebas, mengungkung kebebasan hidup sebagai manusia merdeka.