Sabtu, 28 September 2013

What can we do for him? La Ali Kiradu

Rumah, tempat tinggal La Ali

DirkaDian
La Ali Kiradu ....

La Ali Kiradu, warga Kelurahan Sagerat Weru 2 Kecamatan Matuari Bitung, SULUT, yang hidup dalam ketidak berdayaan, sebatang kara, cacat, tak bisa berjalan dan menjalani hidup semata-mata hanya dari belas kasihan warga setempat.

Keberadaan seorang La Ali, lelaki asal Sulawesi Tenggara ini, sudah pernah diangkat lewat media mainstream (sejumlah koran lokal) juga Social Media (Facebook/twitter), bantuan-bantuan juga sudah diberikan, seperti sembako dan perlengkapan rumah ala kadarnya oleh SKPD/Pemerintah dan masyarakat umum, namun hidup tetap harus berjalan.

La Ali, terbaring lemah, dibilik 2 X 3 yang sangat sederhana beralas kasur tua diatas tanah, menikmati hidup kesehariannya. Siang diterangi matahari, malam diterangi lampu botol/minyak. Menelan ludah yang menyesakkan dada, ketika penulis meninggalkan tempat itu.....

Keberadaan seorang La Ali, lelaki asal Sulawesi Tenggara ini, sudah pernah diangkat lewat media mainstream (sejumlah koran lokal) juga Social Media (Facebook/twitter), bantuan-bantuan juga sudah diberikan, seperti sembako dan perlengkapan rumah ala kadarnya oleh SKPD/Pemerintah dan masyarakat umum, namun hidup tetap harus berjalan.

La Ali, terbaring lemah, dibilik 2 X 3 yang sangat sederhana beralas kasur tua diatas tanah, menikmati hidup kesehariannya. Siang diterangi matahari, malam diterangi lampu botol/minyak. Menelan ludah yang menyesakkan dada, ketika penulis meninggalkan tempat itu.....


La Ali, terbaring lemah, dibilik 2 X 3 yang sangat sederhana beralas kasur tua diatas tanah, menikmati hidup kesehariannya. Siang diterangi matahari, malam diterangi lampu botol/minyak. Menelan ludah yang menyesakkan dada, ketika penulis meninggalkan tempat itu.....









Catatan: Reportase ini sudah pernah dimuat di grup FB Info PNPM Mandiri Perkotaan SULUT

Minggu, 22 September 2013

Kegiatan di Festival Selat Lembeh Part 5 yang nyaris basi

Catatan: Dianne Deivie Dirk (Opini)

Sabtu, 21 September 2013, cuaca cukup cerah, matahari menghiasi langit. Festival Selat Lembeh Part 5 dan Syukuran Laut di Kota Bitung, Sulawesi Utara di gelar. Ratusan orang telah memagari dermaga, ketika saya tiba. Seperti juga tahun tahun sebelumnya, Festival Selat Lembeh tekah menjadi Agenda cukup menarik bagi masyarakat Kota Ikan, Bitung, untuk mengaktakan diri bahwa, mereka hidup dikelilingi laut bahkan banyak yang dihidupi oleh laut itu sendiri.

DirkaDianLens@


"Pelaksanaan Festival Selat Lembeh dari tahun ketahun akan lebih baik pelaksanaannya..." demikian cuplikan sambutan Walikota Bitung, Hanny Sondakh.

Agenda tahunan ini seharusnya juga menjadi salah satu wadah untuk mempromosikan Pariwisata Kota ini, walaupun gaungnya masih kurang terasa bagi sebagian masyarakat SULUT pada khususnya, bahkan  terlihat hanyalah sebagian warga Bitung yang tinggal didaerah sekitar Pelabuhan Perikani Bitung, tempat dimana Festival ini dilaksankan yang banyak memadati tempat ini, terasa juga arus kendaraan sepanjang Bitung Kauditan/Manado yang biasa saja. Sebulan, seminggu bahkan beberapa hari sebelumnya  tidak banyak media cetak maupun online yang mengangkat promosi Festival ini secara gencar. Why?

Panitian penggagas acara juga menyugukan kegiatan yang nyaris basi dan kurang inovasi, anak-nak sekolah yang harusnya dilibatkan untuk menumbuhkan rasa memiliki dan kecintaan yang besar pada alam/laut  tidak terlihat dilibatkan. Padahal harusnya, inilah saatnya, mengaktakan penghargaan ini di hati generasi muda kita, bahwa  laut daerahnya yang harus dijaga, karena hakekatnya, ini juga akan diwariskan dari generasi kegenerasi.

Tidak terpikir juga, oleh panitia untuk bisa menyediakan ruang pameran bahkan  lomba foto Pulau dan Selat Lembeh beserta biota-biota lautnya yang indah dan unik. Saya yakin, tidak sedikit pemerhati  photography di SULUT akan merespons positif acara ini. Lomba menarik lain yang tak dilirik yaitu lomba menulis artikel, cerita atau opini mengenai Selat ini juga tak pernah diakomodir dalam 5 kali penyelenggaraan Festival. Bahkan macam-macam ide kreatif untuk lebih menghidupkan penyelenggaraan ajang ini tidak terjadi.

Jangan sampai kegiatan ini hanya menjadi semacam wadah untuk memperkokoh para pengusaha yang hanya meraup untung sebanyak-banyaknya dari Laut Bitung bahkan Sulawesi tanpa memikirkan kelestarian ekosistem Selat ini.

Sejatinya, Selat Lembeh adalah milik warga Bitung khususnya dan SULUT umumnya, bukan milik segelintir orang yang tidak peduli akan kelestarian Selat ini bukan?

DirkaDianLens@


DirkaDianLens@






Sabtu, 07 September 2013

Lika liku pemberdayaan masyarakat

Pagi itu, Teddy Sulangi, atasan saya di Konsultan Pemberdayaa Masyarakat menelpon, sehubungan dengan rencana kedatangan Tim Inspektorat dari Jakarta dan Satker PU Propinsi untuk melakukan inspeksi mendadak di kelurhan ynag menjadi dampingan kami.


Setelah menunggu cukup lama diposko Tim di Manembo-nembo Tengah Bitung (SULUT), kedatangan Inspektorat belum kunjung datang. Pak Teddy mengirimkan sms untuk menuju ke acara Halal bi halal Kordinator Kota Bitung Sulawesi Utara, sekaligus Rapat Koordinasi kami Konsultan.


Sementara Ceramah, Tim Inspektortat sudah menuju ke Kelurahan Manembo-nemboh Tengah. Padahal Deysi Kumenit seorang relawan di Kelurahan Sagerat juga menelpon bahwa mereka sudah siap, jika sekiranya tim akan turun ke Sagerat.

Bicara kerja sama, itu  adalah  sesuatu yang wajib dalam dunia Pemberdayaan Masyarakat yang kami geluti. Jika ada seorang konsultan pemberdayaan masyarakat yang kesulitan dalam melakoni kerasama dengan berbagai pihak, maka otomatis yang bersangkutan, tidak akan mudah dan enjoy menjalani pekerajaannya.

Kerjasama dengan tim kerja, dengan masyarakat, pemerintah dan stekholder lain sehingga bisa melakoni pekerjaan dengan semangat sanatlah penting. Masalah tidak akan habis-habisnya, itu pasti, namun setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.

Karakter sangat menentukan, pinter, bukanlah modal utama, kerendahan hati dan kepedulian terhadap orang lain adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam pekerjaan ini. Selain itu, kreatifitas dan manajemen waktu adalah suatu keharusan.
Dalam suatu komunitas dengan komunitas yang lain, akan berbeda masalahnya, setiap hari akan ditemui persoalan yang berbeda dan perlu cara yang berbeda untuk menyelesaikan masalah. Jika perlu bisa jadi orang yang berbeda yang kan memeberikan jalan keluar.


Passion............ untuk memajukan, mengangkat dan mendorong seseorang atau sekelompok orang menjalani kehidupan, keluar dari lingkaran kemiskinan adalah wajib, kalau tidak maka jangan harap, bisa bertahan.


Pembangunan yang berkonsep pemberdayaan masyarakat atau pembangunan partisipatif sudah jamak berjalan/berlaku di Indonesia, malahn konsep ini konon banyak diadopsi oleh negara-negara lain sekarang saaatnya, masyarakat yang menetukan, melakukan, memonitor pembangunan apa yang dibutuhkan untuk kemajuan dirinya, kelompok dan lingkungan dimana ia hidup.

Berbeda disekitar 5-6 tahun lalu, dunia pembangunan partisipatif masih asing dan kaku dilaksanakan, saat ini, konsep pembangunan partisipatif sudah diadopsi oleh berbagai instansi pemerintah dan swasta di Indonesia...