Dari ibu yang keras, ulet dan rajin aku
dilahirkan (Mama Dev *Deivie, dari
namaku atau Ibu Soffie Dirk-Ngantung, mamiku biasa di sapa). Mungkin orang
takkan percaya kalau aku benar anaknya jika pernah saat aku
berjalan bersamanya, karena memang beda, aku sikecil ngimut sementara mamiku
sigendut fol-fol . Ingat mamiku, aku suka nelangsa sambil tersenyum, orangnya
keras namun dilain kesempatan candaannya bikin orang terpingkal-pingkal. Bahkan
disaat sakit sekarat sekalipun masih
membuat orang lain tersenyum dengan kata-katnya yang jenaka.
Aku melewati masa kecil yang indah di rumah
kecil, samping Masjid Nurulhuda Kauditan II, tinggal disamping masjid selama 12
tahun dalam sejarah hidupku, ini yang
membentukku tidak alergi dengan kaum muslim, yang sebagian orang bahkan ada
yang sampai menimbulkan bunuh-membunuh (hhiii serem), padahal kita sama-sama
manusia, wajib saling menghargai, menghormati, agamamu adalah agamamu, manusia
bebas memilih dan menjalankan. Terbukti
sahabatku, banyak yang muslin, sejak SD,
terjalin persahabatan yang manis dengan mereka.
Kembali ke mamiku, aku besar dalam keteraturan
hidup yang diterapkan mamiku, bangun pagi, bantu mami cuci piring, menyapu,
mandi di pancuran baru kesekolah SD GMIM I, yang jaraknya lebih kurang 1 km
dari rumah. Mami menjadi ibu rumah
tangga full time tapi, tidak pernah berhenti membantu papiku memenuhi semua
kebutuhan hidup.
Teliti, tegas, teratur dan rajin itu gambaran
sifat mamiku, hanyalah seorang perempuan sederhana, mengabdi bagi keluarga,
menjadi pelayan jemaat sebagai Syamas GMIM Paulus Kauditan selama 3 periode dan
selama 5 tahun dipercaya sebagai bendahara jemaat yang tegas,
disiplin, terperinci (kadang sifatnya itu salah diartikan orang).
Bicara soal keteraturan yang diterapkan mamiku,
ternyata, tak sepenuhnya aku terapkan dalam hidupku. Aku punya cara hidup yang
berbeda yang kadang kontradiksi dengan mamiku. Aku menjadi cenderung mengikuti
kata hatiku dan selalu ingin melakukan apa yang ingin kulakukan tanpa harus
memikirkan aturan-aturan yang dibuat secara tidak bebas, mengungkung kebebasan
hidup sebagai manusia merdeka.
Singkat cerita 2010, 2011, 2012 mamiku sering
menderita sakit, mulai sangat parah sejak April 2012, mami meminta untuk dibawa kerumah sakit, peningnya tidak
hilang, muntah dan muntah lagi walaupun sudah 3 kali bolak-balik dokter
praktek. Tanggal 9 April, hari kedua mami dirumah sakit, semakin lemah
kondisinya, hari ketiga, dokter menyatakan bahwa mami menderita strock ringan,
saat itu juga pengobtan-pengobatan terbaik diberikan namun mami tetap dalam
kondisi yang memprihatinkan, kurang lebih 3 minggu mami pulang dengan kondisi masih
dalam perawatan.
7 bulan masuk keluar rumah sakit, banyak hal
yang mewarnai sakitnya mami, banyak hal yang tidak terungkap atau diungkapkan
saat dia sehat terungkap/diungkapkan dimasa ini, banyak bekal untuk persiapan
kami kehilangan orang yang kami kasihi, banyak pesan yang disampaikan tanpa
rencana. Tujuh bulan, lebih dari separuh
masa sakitnya mami, dia sulit tidur, bangun sepanjang siang dan malam, bicara
terus menerus sebagai akibat sakitnya itu. Tuhan mempersiapkan kami, papiku,
adik-adikku dan kau sendiri.
Dalam beberapa kesempatan jika kondisinya baik
(saat jadwal jagaku), dia memintah kami ngobrol dan cerita segala hal yang mulai dari menyangkut aku dan dia sampai
kejadian-kejadian diluar kami, semuanya mengalir bgitu saja, tanpa terasa
menjadi satu rangkaian kejadian yang indah dan wadah mentransfer pesan-kesan
bagi aku dan saudara-saudaraku. Semua itu menjadi indah untuk dikenang. “Mami
lia, ngana memang ulet”, sepenggal kalimat yang sempat diungkapkan menggambarkan respeknya padaku, yang membesarkan,
mengasuh anak-anakku dan menjalani hidup terpisah jarak dengan papa
anak-anakku.
Mami memperhatikanku, kritik, marah sebagai
ungkapan rasa sayang kepada anak sulung yang
paling disayangi, hal ini disampaikan secara kusus padaku. Aku terdiam,
dengan mata berkaca-kaca, menyimpan keharuanku, aku tak ingin mami melihatku
menangis.
Aku ingat, bagaimana mami merajuk saat kami
sampaikan bahwa ULTAnya yangke 64, 16 Agustus 2012 tidak akan dirayakan
dengan undang banyak orang mengingat kondisinya yang sakit, belum bisa
duduk/bangun, mami marah, menangis dan tidak mau bicara, sampai akhirnya kami
memutuskan untuk merayakan ULTA mami dengan cukup meriah. Mami sangat bahagia,
8 pendeta hadir di ULTA mami, 16 Agustus 2012. Itulah Ulang Tahun mami yang
terakhir, dirayakan di rumah baru Ade di
kebun dikelilingi telaga, sawah, pala, kelapa dan bebebek, rumah yang dibangun,
dengan kepala Proyek, mami sendiri dan dibangun di kebun/tanah warisan orang
tua mereka. Mamiku sangat bahagia waktu itu. Dua minggu mami tetap nginap
dirumah itu.
Sampai akhir hidupnya mamiku tidak pernah
menyerah terhadap penyakit yang dideritanya, kami sangat menyayanginya, kami
ingin mami tetap dan selaluh ada dalam perjalanan hidup kami. Mami berusaha
untuk sembuh, dan tidak meyerah begitu saja, walaupun hidup dalam kelemahan
tubuh. Mamiku yang tak pernah bisa diam, terbaring tak berdaya.
Diujung kelelahan kami sebagai manusia, papiku,
adik2ku dan aku sendiri.............Tuhan mengambil alih semuanya, 17
Oktober 2012 jam 9 malam itu, Dia memanggil pulang mamiku. Dingin
menyengat malam, mengantar kepergian my best mom. Tuhan mengambil semua
penderitaannya.
Dua Puluh Oktober 2012, Pdt. DR. Nico Gara,
teman remaja mamiku di SMEA Negeri Manado, memimpin Ibadah pemakaman mamiku,
keluarga, kerabat, kenalan melepaskan dengan pujian akan kuasa kemuliaan perbuatan
Tuhan.
“Akulah jalan, kebangkitan dan hidup; barang
siapa percaya kepadaKu, ia akan hidup, walaupun ia sudah mati”. (John 11:25)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar