Selasa, 27 November 2012

Aku dan Ibuku



Dari ibu yang keras, ulet dan rajin aku dilahirkan (Mama Dev  *Deivie, dari namaku atau Ibu Soffie Dirk-Ngantung, mamiku biasa di sapa).  Mungkin orang  takkan percaya kalau aku benar anaknya jika pernah saat  aku berjalan bersamanya, karena memang beda, aku sikecil ngimut sementara mamiku sigendut fol-fol . Ingat mamiku, aku suka nelangsa sambil tersenyum, orangnya keras namun dilain kesempatan candaannya bikin orang terpingkal-pingkal. Bahkan disaat sakit sekarat sekalipun  masih membuat orang lain tersenyum dengan kata-katnya yang jenaka.

Aku, dibesarkan oleh wanita yang dominan ini, papiku kalah nyali, walalupun my mom tetap takut juga kalau papiku bicara tegas. Membayangkan mereka, lucu juga, sperti angka 1 dan huruf O, siceking dan si ndut. Sekian puluh tahun hidup bersama hingga ajal memisahkan mereka tetap dalam naungan kasih sayang satu dengan yang lain.  Cinta memang hanya sepenggal  makna tapi cinta itulah yang menguatkan hubungan keduanya. Bangga aku menekspresikan itu.

Aku melewati masa kecil yang indah di rumah kecil, samping Masjid Nurulhuda Kauditan II, tinggal disamping masjid selama 12 tahun dalam sejarah hidupku, ini  yang membentukku tidak alergi dengan kaum muslim, yang sebagian orang bahkan ada yang sampai menimbulkan bunuh-membunuh (hhiii serem), padahal kita sama-sama manusia, wajib saling menghargai, menghormati, agamamu adalah agamamu, manusia bebas memilih dan menjalankan.  Terbukti sahabatku, banyak yang  muslin, sejak SD, terjalin persahabatan yang manis dengan mereka.

Kembali ke mamiku, aku besar dalam keteraturan hidup yang diterapkan mamiku, bangun pagi, bantu mami cuci piring, menyapu, mandi di pancuran baru kesekolah SD GMIM I, yang jaraknya lebih kurang 1 km dari rumah. Mami menjadi  ibu rumah tangga full time tapi, tidak pernah berhenti membantu papiku memenuhi semua kebutuhan hidup.

Teliti, tegas, teratur dan rajin itu gambaran sifat mamiku, hanyalah seorang perempuan sederhana, mengabdi bagi keluarga, menjadi pelayan jemaat sebagai Syamas GMIM Paulus Kauditan selama 3 periode dan selama 5 tahun dipercaya sebagai bendahara jemaat  yang tegas,  disiplin, terperinci (kadang sifatnya itu salah  diartikan orang).

Bicara soal keteraturan yang diterapkan mamiku, ternyata, tak sepenuhnya aku terapkan dalam hidupku. Aku punya cara hidup yang berbeda yang kadang kontradiksi dengan mamiku. Aku menjadi cenderung mengikuti kata hatiku dan selalu ingin melakukan apa yang ingin kulakukan tanpa harus memikirkan aturan-aturan yang dibuat secara tidak bebas, mengungkung kebebasan hidup sebagai manusia merdeka.


My Critis Boy, Stevano

Pagi cerah, hari itu, dokter Sayogo, dokter yang menangani kehamilanku  bergegas datang, bidan-bidan yang jaga malam  terus memonitor, rupanya monitoring dokter adalah lewat telepon, dan ketika dianalisa sudah hampir waktunya melahirkan dokter bergegas datang.

Kelahiran Stevano terasa menakjubkan, tentunya bagiku yang baru merasakan pertama kalinya. Tidak banyak kesulitan, Ano lahir dengan tali pusar melingkar. Membaca hasil monitor medis dinyatakan nilai kesehatan Ano perfect. walaupun dari omongan dokter yang sempatku dengar, Ano berdiam dalam rahim  lebih dari 9 bln 10 hari.

Stevano tumbuh sebagai anak yang tak bisa diam,  bergerak lincah dimanapun dia berada. dan walaupun dia tidak mendapatkan ASI secara full tapi dia tumbuh sehat, jarang sakit. Tak jarang kami menyebutnya si Autis karena kelincahaannya itu. 

RS Harapan Kita Jakarta, 8 September 1996, Pelangi itu hadir, dia bertumbuh untuk Pemiliknya.




Hari ini, lebih dari 16 tahun yang lalu, dia menjadi anak yang berbeda dalam segi pemikiran-pemikirannya. 
Dia menjadi anak yang kritis.

Malam tadi dia curhat, dan memberikan pendapatnya tentang guru-gurunya, yang dimatanya, ada yang benar-benar punya passion sebagai guru, ada yang menjadi guru karena kebutuhan materi saja.
Kemudian dia curhat mencari dimana Tuhan, apa dan siapa Tuhan.

Dari atmosfir kehidupan demokratis yang kuterapkan, bertumbuhlah sosok Stevano, anak sulung kami.
God bless him.


Stevano with his Jimbo (Paps), Mom and inset AY his brother.

Selasa, 13 November 2012

Bagaskara dan Monika



Monika memandang ujung dermaga dan terus berjalan mengikuti beberapa penumpang yang sedang menuju pintu keluar Pelabuhan.

Pintu Kota Lembeh Bitung
Terdiam Monika  saat itu, bergolak dengan pikirannya sendiri, “aku berbisnis disana Nik…..” demikian Bagas menyampaikan kalimat itu dengan datar dan lirih, seakan tak ingin orang lain mendengarnya dengan jelas. Matanya kosong menatap kedepan, seakan takut terbaca Monika, kebohongan apa yang tersembunyi dibalik kacamata Bagaskara. Monika menelan ludah yang terasa pahit sambil memandang wajah yang lama dikenalnya sebagai laki-laki yang peduli dan sangat mengasihinya.

Satu jam sebelumnya Bagas tampak sedikit menarik lengan Monika,  setelah kaget mengetahui Monika berada di dermaga pelabuhan saat itu……”Monik…..apa yang kau lakukan disini?” Terlihat wajah Bagas sangat gusar. “Percayalah Bagas, tak ada yang berlebihan akan kulakukan…..” Bagas tak kuasa menahan lebih keras lengan Monika. Waktu hanya berlalu sekian detik, dengan sigap dan cepat Monika telah meberikan Tiketnya kepada petugas pemeriksa di tangga kapal, langkanya pasti menaiki kapal itu. Bagaskara terpaku dalam resah yang dalam.

Clingak-clinguk Monika memandang setiap sudut lantai kapal itu, bau laut bercampur keringat penumpang yang siap menuju pelabuhan berikutnya tak melunturkan niat Monika mencari jejak kebenaran itu. Hari itu, usahanya tak sia-sia, apa yang dicarinyanya, dalam angan atapun dalam gelisah tidurnya selama berbulan-bulan terwujudnya. Dikesibukan dan keramian penumpang mencari posisi dan tempat yang mereka sukai, Monika terpaku pada sosok perempuan dengan dandanan yang tak dibayangkan sebelumnya, rambutnya berkilau merah menyolok dan dandanan yang jauh dari bayangan Monika. Dug dag....gemuruh detak jantung Monika. 

Tertahan sebentar kekagetan Monika, sambil menunggu, perempuan yang berada dihadapannya selesai berbicara dengan seseorang yang Monika yakini adalah Bagaskara. Dalam benaknya, Monika bisa membayangkan kebingungan dan kepanikan Bagaskara menjelaskan dengan kecemasan yang dalam dengan kebohongan yang dadakan terpikirkan olehnya, agar dia bisa selamat untuk sementara waktu. Bagaskara tak pernah berpikir bahwa kebohongan hanya akan menyelamatkan sementara, untuk selanjutnya akan menuai kehancuran yang berkepanjangan bahkan mungkin selamanya.

“Carolin?.......kamu Carolin kan?” sedikit bergetar suara Monika dan tertahan di tenggorokan, dipandangnya dengan saksama raut wajah Carolin, sambil mengamati wajah orientalnya untuk memastikan dugaannya. Dengan bingung dan panik yang taktersembunyikan, “Bukan, saya Astuti...”
To be countinue….