Monika memandang
ujung dermaga dan terus berjalan mengikuti beberapa penumpang yang sedang
menuju pintu keluar Pelabuhan.
Terdiam Monika saat itu, bergolak dengan pikirannya sendiri,
“aku berbisnis disana Nik…..” demikian Bagas menyampaikan kalimat itu dengan
datar dan lirih, seakan tak ingin orang lain mendengarnya dengan jelas. Matanya
kosong menatap kedepan, seakan takut terbaca Monika, kebohongan apa yang
tersembunyi dibalik kacamata Bagaskara. Monika menelan ludah yang terasa pahit
sambil memandang wajah yang lama dikenalnya sebagai laki-laki yang peduli dan
sangat mengasihinya.
Satu jam
sebelumnya Bagas tampak sedikit menarik lengan Monika, setelah kaget mengetahui Monika berada di
dermaga pelabuhan saat itu……”Monik…..apa yang kau lakukan disini?” Terlihat
wajah Bagas sangat gusar. “Percayalah Bagas, tak ada yang berlebihan akan
kulakukan…..” Bagas tak kuasa menahan lebih keras lengan Monika. Waktu hanya
berlalu sekian detik, dengan sigap dan cepat Monika telah meberikan Tiketnya
kepada petugas pemeriksa di tangga kapal, langkanya pasti menaiki kapal itu.
Bagaskara terpaku dalam resah yang dalam.
Clingak-clinguk Monika memandang setiap sudut lantai kapal itu, bau laut
bercampur keringat penumpang yang siap menuju pelabuhan berikutnya tak
melunturkan niat Monika mencari jejak kebenaran itu. Hari itu, usahanya tak
sia-sia, apa yang dicarinyanya, dalam angan atapun dalam gelisah tidurnya
selama berbulan-bulan terwujudnya. Dikesibukan dan keramian penumpang mencari
posisi dan tempat yang mereka sukai, Monika terpaku pada sosok perempuan dengan
dandanan yang tak dibayangkan sebelumnya, rambutnya berkilau merah menyolok dan
dandanan yang jauh dari bayangan Monika. Dug dag....gemuruh detak jantung
Monika.
Tertahan sebentar kekagetan Monika, sambil menunggu, perempuan yang berada
dihadapannya selesai berbicara dengan seseorang yang Monika yakini adalah
Bagaskara. Dalam benaknya, Monika bisa membayangkan kebingungan dan kepanikan
Bagaskara menjelaskan dengan kecemasan yang dalam dengan kebohongan yang
dadakan terpikirkan olehnya, agar dia bisa selamat untuk sementara waktu.
Bagaskara tak pernah berpikir bahwa kebohongan hanya akan menyelamatkan
sementara, untuk selanjutnya akan menuai kehancuran yang berkepanjangan bahkan
mungkin selamanya.
“Carolin?.......kamu Carolin kan?” sedikit bergetar suara Monika dan
tertahan di tenggorokan, dipandangnya dengan saksama raut wajah Carolin, sambil
mengamati wajah orientalnya untuk memastikan dugaannya. Dengan bingung dan panik
yang taktersembunyikan, “Bukan, saya Astuti...”
To be
countinue….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar