Selasa, 13 November 2012

Bagaskara dan Monika



Monika memandang ujung dermaga dan terus berjalan mengikuti beberapa penumpang yang sedang menuju pintu keluar Pelabuhan.

Pintu Kota Lembeh Bitung
Terdiam Monika  saat itu, bergolak dengan pikirannya sendiri, “aku berbisnis disana Nik…..” demikian Bagas menyampaikan kalimat itu dengan datar dan lirih, seakan tak ingin orang lain mendengarnya dengan jelas. Matanya kosong menatap kedepan, seakan takut terbaca Monika, kebohongan apa yang tersembunyi dibalik kacamata Bagaskara. Monika menelan ludah yang terasa pahit sambil memandang wajah yang lama dikenalnya sebagai laki-laki yang peduli dan sangat mengasihinya.

Satu jam sebelumnya Bagas tampak sedikit menarik lengan Monika,  setelah kaget mengetahui Monika berada di dermaga pelabuhan saat itu……”Monik…..apa yang kau lakukan disini?” Terlihat wajah Bagas sangat gusar. “Percayalah Bagas, tak ada yang berlebihan akan kulakukan…..” Bagas tak kuasa menahan lebih keras lengan Monika. Waktu hanya berlalu sekian detik, dengan sigap dan cepat Monika telah meberikan Tiketnya kepada petugas pemeriksa di tangga kapal, langkanya pasti menaiki kapal itu. Bagaskara terpaku dalam resah yang dalam.

Clingak-clinguk Monika memandang setiap sudut lantai kapal itu, bau laut bercampur keringat penumpang yang siap menuju pelabuhan berikutnya tak melunturkan niat Monika mencari jejak kebenaran itu. Hari itu, usahanya tak sia-sia, apa yang dicarinyanya, dalam angan atapun dalam gelisah tidurnya selama berbulan-bulan terwujudnya. Dikesibukan dan keramian penumpang mencari posisi dan tempat yang mereka sukai, Monika terpaku pada sosok perempuan dengan dandanan yang tak dibayangkan sebelumnya, rambutnya berkilau merah menyolok dan dandanan yang jauh dari bayangan Monika. Dug dag....gemuruh detak jantung Monika. 

Tertahan sebentar kekagetan Monika, sambil menunggu, perempuan yang berada dihadapannya selesai berbicara dengan seseorang yang Monika yakini adalah Bagaskara. Dalam benaknya, Monika bisa membayangkan kebingungan dan kepanikan Bagaskara menjelaskan dengan kecemasan yang dalam dengan kebohongan yang dadakan terpikirkan olehnya, agar dia bisa selamat untuk sementara waktu. Bagaskara tak pernah berpikir bahwa kebohongan hanya akan menyelamatkan sementara, untuk selanjutnya akan menuai kehancuran yang berkepanjangan bahkan mungkin selamanya.

“Carolin?.......kamu Carolin kan?” sedikit bergetar suara Monika dan tertahan di tenggorokan, dipandangnya dengan saksama raut wajah Carolin, sambil mengamati wajah orientalnya untuk memastikan dugaannya. Dengan bingung dan panik yang taktersembunyikan, “Bukan, saya Astuti...”
To be countinue….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar