Selasa, 22 Januari 2013

Strategy & Time Management


Time is money adalah pepatah usang yang tak pernah lekang dimakan waktu, waktu yang telah lewat tak akan pernah kembali. Waktu yang terbuang percuma tentu tidak akan bermanfaat.

Managemen waktu adalah suatu hal yang sangat penting bagi kita yang bekerja mandiri sebagai fasilitator. Fasilitator pemberdayaan masyarakat, adalah perkerjaan yang membutuhkan kreatifitas dan managemen waktu yang mandiri pula. Mengapa dikatakan mandiri, karena kita diharapkan punya inisiatif sendiri untuk mengatur waktu dan kewajiban kita walaupun didepan mata ada petunjuk pelaksana.

Bertahun-tahun “ber-gaul” dengan Siklus Pemberdayaan masyarakat, yang diawali dan dibumbuhi dengan aneka pelatihan dan penguatan, membuat otak kita terbiasa dan terbawa pada rangkaian Siklus yang diintervensi oleh PNPM Mandiri Perkotaan. Namun bicara Siklus, tetap berpegang pada Master Schedule yang  dikeluarkan setiap tahun.

Nah, disinilah awalnya (dalam konteks ini) kita bicara mengenai Time & Strategy Management. Adapun yang menjadi patokan adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini:

Minggu, 20 Januari 2013

Paru-paru rumahku (Hutan Tropis)

DirkaDian sangat mencintai alam, sejak kecil suka mengikuti my grandma   kekebun, menjadi anggota pramuka, pelajar cinta alam  dan menjadikan alam sebagai sahabat, oleh sebab itu Dirka ingin menciptakan alam yang segar sebagai paru-paru tempat tinggal. 


Halaman depan rumahku, kuciptakan menjadi taman bahkan lebih tepat disebut hutan, yang memberikan kesejukkan bagi mata dan paru-paru kita, tempatnya sejuk karena ditumbuhi pohon-pohon, bunga liar (yang sengaja di ambil dari kebun/hutan), tanaman-tanaman buah, seperti kedondong, mangga, jeruk, mengkudu dll

Sabtu, 19 Januari 2013

Cakalang Kuah Asam Ala Dirkadian


Hari ini aku mau berbagi resep masakan Ikan Cakalang fufu (asap) Manado Menu ala Dirkadian
Aku bangga sekaligus heran, sewaktu tinggal di Jakarta, teman-teman yang bukan Manado, Suka banget dengan yang namanya Menu Ikan KUAH ASANG/Asam di rumah makan yang menyajikan Masakan Ala Manadonese.

Kali ini aku mau berbagi resep sederhana dan gampang banget ini:

Bahan-bahan:
1.  Cakalang Fufu sesukanya (beberapa potong)
2.  Tomat  Apel 3 bh.
3.  Daun bawang 3 lbr
4.  Daun Kemangi secukupnya
5.  Cabe Rawit 10 bh/#
6.  Daun Sereh 1/#
7.  Daun Kunyit 1 2 lbr
8.  Kentang 4 buah
9.  Daun Jeruk 2 lbr/#
10. -/+ 2,5 liter air
11. Air jeruk ikan (bisa diganti jeruk nipis)
12. Garam secukupnya
13. Ajinomoto secukupnya (boleh diganti penyedap bermerek lain)

Bersihkan semua bahan, cuci, ikan cakalang di potong kecil-kecil, sendirikan rempah2 yang bertanda/#,
Potong tomat sesuai selera, iris sesuai selera daun bawang, begitu juga kentang. Cabe rawit biarkan tidak di potong.

Rebus air, sebelum mendidih masukkan ikan cakalang, diikuti, Kentang, Daun Sereh/#, Daun Jeruk# dan Cabe Merah,  setelah bahan-bahan setengah matang, masukkan Daun bawang, tomat, kemangi,  terakhir masukkan air jeruk, garam dan ajinomoto, aduk hingga semua bahan tercampur dan garam, ajinomoto homogen dengan air.

Cicipi......enak bukan...segar.




Minggu, 06 Januari 2013

Review Of My Life, 2012


I must thanks to God for His blessed me & family a long time 2012.

Review 2012

Januari - Februari 
My sons Stevano & Fernando Ayub Loho bertambah dewasa, Vano sudah 15 tahun pada tanggal 8 September 2011, Ayub genap 13 tahun pada tanggal 24 Februari 2012, puji Tuhan untuk semua itu.
Cute Birds
Harmonisasi Fasilitator PNPM se Sulut di Pondok Daun Manado selama 3 hari.

Maret – April 2012
1.      Masa sulit buatku, tanpa sengaja menemukan sesuatu di Flash disk, berkode yellow.

2.      Mami sakit dan masuk rumah sakit pada tanggal 8 April 2012, mami mengalami sakit yang parah, sepanjang hidupnya tidak pernah sakit separah ini. Walaupun memang sekitar 2-3 tahun belakangan mami mengalami sakit yang tidak biasa, yaitu penyempitan ditulang belakang dan pengeroposan tulang belakang. Namun memang awal april ini mami sakit parah, mengalami Koma dan di vonis dokter, mami kena Stroke

3.      Pekerjaan Pemberdayaan masyarakat tetap berjalan di 10 kelurahan dampingan tim 22, konflik Kelurahan Sagerat Weru 2 belum  juga selesa, walaupun kelihatan adem ayem.

Mei – September 2012
Mami masih sakit, masih dalam perawatan, walaupun pulang kerumah tetap masih dlam perawatan yang intensif. Kami bergantian merawat, menjaga siang malam, mami sulit tidur, bangun dan marah sepanjang  malam. Rupanya gangguan saraf akibat stroke membuat mami tidak lagi senormal dulu. Namun ada saat saat tertentu dimana mami bisa kembali normal dan bercerita mengenai banyak hal dengan kami.

Hari-hari terasa berat, karena menjaga mami dimalam hari, sementara kami juga harus kerja disiang hari. Adakalanya sepanjang malam tidak tidur, tapi anehnya saya tidak pernah sakit yang membuat saya betul-betul drop. Memang badan terasa tidak fit karena nyaris jarang tidur pada sepanjang  April – September 2012.

Dua kali masuk rumah sakit, semapt Koma selama 14 hari, akhirnya mami sadar dan bisa pulang, tapi bukan berarti mami sembuh total, mami tetap belum bisa duduk. Kursi roda yang kami beli untuk mempermudah aktifitas mami, hanya digunakan sebanyak 2 kali.

Vano dan Ayub  naik kelas, Vano kelas 3 SMU dan Ayub kelas 3 SMP. Wali Kelas Stevano, Enci Lifta Mentang, sedangkan Ayub Walikelasnya adalah Ibu Lolong-Mandagi.

Fasilitasi untuk pemilihan ulang LKM di 4 kelurahan dampingan tahun ke-4 SW1, SW2, Manteng, Wangut.

Di Oktober, Saya mendampingi mami selama sakit, pada bulan2 ini, saya melihat kondisi mami yang semakin lemah, mami meminta makanan macam-macam, minuman macam-macam dan nyaris tidak lagi minum air putih selama kurang lebih 3 bulan. Sedih saya melihat kondisi mami, tapi saya tidak bisa menolong menyembuhkannya secara total. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan.
Saya melihat papi juga sangat lelah, sekian bulan mengurus dan mendampingi mami yang sakit stroke, saya lihat sangat berbeda dengan mereka yang sakit lain. Mami sarafnya terganggu, sehingga sering kali apa yang dilakukan dan dikatakan tidak lagi seperti mamiku yang dulu.

Fasilitasi masyarakat di 10 kelurahan relatif berjalan baik, yang menjadi kendala dan tantangan tim adalah masalah di Kelurahan Sagerat Weru 2 (SW2).

Ibu Rita Watuna-Rintik yang setia bersama kami dalam pekerjaan dan pendampingan kami di PNPM Mandiri Perkotaan Bitung meninggal dunia. Aku datang di pelepasan Jenasah dalam Ibadah pemakaman di Girian Atas, hari minggunya aku datang di syukuran dumingguan.

Agustus adalah bulan yang paling berat bagiku, saat inilah puncak segala kegalauan. Pelabuhan Bitung gerah bukan karena  matahari tapi karena suasana Bitung memang panas karena dekat pantai.

KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) di dengung-dengungkan dengan rencana reklamasi pantai dari Kema – Girian. Lantas pertanyaan “Bagaimana kelangsungan Ekosistem Selat Lembeh?”. Apakah studi kelayakan sudah benar-benar dilakukan untuk kelangsungan hidup biota-biota laut yang ada hidup di Pulau Lembeh?
Girian, Bitung, SULUT, Indonesia

Selasa, 27 November 2012

Aku dan Ibuku



Dari ibu yang keras, ulet dan rajin aku dilahirkan (Mama Dev  *Deivie, dari namaku atau Ibu Soffie Dirk-Ngantung, mamiku biasa di sapa).  Mungkin orang  takkan percaya kalau aku benar anaknya jika pernah saat  aku berjalan bersamanya, karena memang beda, aku sikecil ngimut sementara mamiku sigendut fol-fol . Ingat mamiku, aku suka nelangsa sambil tersenyum, orangnya keras namun dilain kesempatan candaannya bikin orang terpingkal-pingkal. Bahkan disaat sakit sekarat sekalipun  masih membuat orang lain tersenyum dengan kata-katnya yang jenaka.

Aku, dibesarkan oleh wanita yang dominan ini, papiku kalah nyali, walalupun my mom tetap takut juga kalau papiku bicara tegas. Membayangkan mereka, lucu juga, sperti angka 1 dan huruf O, siceking dan si ndut. Sekian puluh tahun hidup bersama hingga ajal memisahkan mereka tetap dalam naungan kasih sayang satu dengan yang lain.  Cinta memang hanya sepenggal  makna tapi cinta itulah yang menguatkan hubungan keduanya. Bangga aku menekspresikan itu.

Aku melewati masa kecil yang indah di rumah kecil, samping Masjid Nurulhuda Kauditan II, tinggal disamping masjid selama 12 tahun dalam sejarah hidupku, ini  yang membentukku tidak alergi dengan kaum muslim, yang sebagian orang bahkan ada yang sampai menimbulkan bunuh-membunuh (hhiii serem), padahal kita sama-sama manusia, wajib saling menghargai, menghormati, agamamu adalah agamamu, manusia bebas memilih dan menjalankan.  Terbukti sahabatku, banyak yang  muslin, sejak SD, terjalin persahabatan yang manis dengan mereka.

Kembali ke mamiku, aku besar dalam keteraturan hidup yang diterapkan mamiku, bangun pagi, bantu mami cuci piring, menyapu, mandi di pancuran baru kesekolah SD GMIM I, yang jaraknya lebih kurang 1 km dari rumah. Mami menjadi  ibu rumah tangga full time tapi, tidak pernah berhenti membantu papiku memenuhi semua kebutuhan hidup.

Teliti, tegas, teratur dan rajin itu gambaran sifat mamiku, hanyalah seorang perempuan sederhana, mengabdi bagi keluarga, menjadi pelayan jemaat sebagai Syamas GMIM Paulus Kauditan selama 3 periode dan selama 5 tahun dipercaya sebagai bendahara jemaat  yang tegas,  disiplin, terperinci (kadang sifatnya itu salah  diartikan orang).

Bicara soal keteraturan yang diterapkan mamiku, ternyata, tak sepenuhnya aku terapkan dalam hidupku. Aku punya cara hidup yang berbeda yang kadang kontradiksi dengan mamiku. Aku menjadi cenderung mengikuti kata hatiku dan selalu ingin melakukan apa yang ingin kulakukan tanpa harus memikirkan aturan-aturan yang dibuat secara tidak bebas, mengungkung kebebasan hidup sebagai manusia merdeka.


My Critis Boy, Stevano

Pagi cerah, hari itu, dokter Sayogo, dokter yang menangani kehamilanku  bergegas datang, bidan-bidan yang jaga malam  terus memonitor, rupanya monitoring dokter adalah lewat telepon, dan ketika dianalisa sudah hampir waktunya melahirkan dokter bergegas datang.

Kelahiran Stevano terasa menakjubkan, tentunya bagiku yang baru merasakan pertama kalinya. Tidak banyak kesulitan, Ano lahir dengan tali pusar melingkar. Membaca hasil monitor medis dinyatakan nilai kesehatan Ano perfect. walaupun dari omongan dokter yang sempatku dengar, Ano berdiam dalam rahim  lebih dari 9 bln 10 hari.

Stevano tumbuh sebagai anak yang tak bisa diam,  bergerak lincah dimanapun dia berada. dan walaupun dia tidak mendapatkan ASI secara full tapi dia tumbuh sehat, jarang sakit. Tak jarang kami menyebutnya si Autis karena kelincahaannya itu. 

RS Harapan Kita Jakarta, 8 September 1996, Pelangi itu hadir, dia bertumbuh untuk Pemiliknya.




Hari ini, lebih dari 16 tahun yang lalu, dia menjadi anak yang berbeda dalam segi pemikiran-pemikirannya. 
Dia menjadi anak yang kritis.

Malam tadi dia curhat, dan memberikan pendapatnya tentang guru-gurunya, yang dimatanya, ada yang benar-benar punya passion sebagai guru, ada yang menjadi guru karena kebutuhan materi saja.
Kemudian dia curhat mencari dimana Tuhan, apa dan siapa Tuhan.

Dari atmosfir kehidupan demokratis yang kuterapkan, bertumbuhlah sosok Stevano, anak sulung kami.
God bless him.


Stevano with his Jimbo (Paps), Mom and inset AY his brother.

Selasa, 13 November 2012

Bagaskara dan Monika



Monika memandang ujung dermaga dan terus berjalan mengikuti beberapa penumpang yang sedang menuju pintu keluar Pelabuhan.

Pintu Kota Lembeh Bitung
Terdiam Monika  saat itu, bergolak dengan pikirannya sendiri, “aku berbisnis disana Nik…..” demikian Bagas menyampaikan kalimat itu dengan datar dan lirih, seakan tak ingin orang lain mendengarnya dengan jelas. Matanya kosong menatap kedepan, seakan takut terbaca Monika, kebohongan apa yang tersembunyi dibalik kacamata Bagaskara. Monika menelan ludah yang terasa pahit sambil memandang wajah yang lama dikenalnya sebagai laki-laki yang peduli dan sangat mengasihinya.

Satu jam sebelumnya Bagas tampak sedikit menarik lengan Monika,  setelah kaget mengetahui Monika berada di dermaga pelabuhan saat itu……”Monik…..apa yang kau lakukan disini?” Terlihat wajah Bagas sangat gusar. “Percayalah Bagas, tak ada yang berlebihan akan kulakukan…..” Bagas tak kuasa menahan lebih keras lengan Monika. Waktu hanya berlalu sekian detik, dengan sigap dan cepat Monika telah meberikan Tiketnya kepada petugas pemeriksa di tangga kapal, langkanya pasti menaiki kapal itu. Bagaskara terpaku dalam resah yang dalam.

Clingak-clinguk Monika memandang setiap sudut lantai kapal itu, bau laut bercampur keringat penumpang yang siap menuju pelabuhan berikutnya tak melunturkan niat Monika mencari jejak kebenaran itu. Hari itu, usahanya tak sia-sia, apa yang dicarinyanya, dalam angan atapun dalam gelisah tidurnya selama berbulan-bulan terwujudnya. Dikesibukan dan keramian penumpang mencari posisi dan tempat yang mereka sukai, Monika terpaku pada sosok perempuan dengan dandanan yang tak dibayangkan sebelumnya, rambutnya berkilau merah menyolok dan dandanan yang jauh dari bayangan Monika. Dug dag....gemuruh detak jantung Monika. 

Tertahan sebentar kekagetan Monika, sambil menunggu, perempuan yang berada dihadapannya selesai berbicara dengan seseorang yang Monika yakini adalah Bagaskara. Dalam benaknya, Monika bisa membayangkan kebingungan dan kepanikan Bagaskara menjelaskan dengan kecemasan yang dalam dengan kebohongan yang dadakan terpikirkan olehnya, agar dia bisa selamat untuk sementara waktu. Bagaskara tak pernah berpikir bahwa kebohongan hanya akan menyelamatkan sementara, untuk selanjutnya akan menuai kehancuran yang berkepanjangan bahkan mungkin selamanya.

“Carolin?.......kamu Carolin kan?” sedikit bergetar suara Monika dan tertahan di tenggorokan, dipandangnya dengan saksama raut wajah Carolin, sambil mengamati wajah orientalnya untuk memastikan dugaannya. Dengan bingung dan panik yang taktersembunyikan, “Bukan, saya Astuti...”
To be countinue….